Tari Seblang Banyuwangi bukan sekadar seni pertunjukan biasa, ini merupakan salah satu warisan budaya paling sakral dan mistis dari Suku Osing, suku asli Banyuwangi.
Tarian ini merupakan sebuah ritual adat yang dilakukan setahun sekali sebagai bagian dari upacara bersih desa dan Tolak Bala (menghilangkan kesialan).
Menyaksikan Seblang adalah pengalaman yang membawa Anda langsung ke jantung kepercayaan dan spiritualitas masyarakat Blambangan kuno.
Asal-Usul, Filosofi, dan Arti Tari Seblang
Sejarah Tari Seblang dari Banyuwangi diselimuti aura mistis, menjadikannya salah satu tradisi tertua di Jawa Timur.
Seblang Adalah Jenis Tari Ritual
Secara kategori, Tari Seblang termasuk jenis tari ritual. Ia berbeda dengan tari pertunjukan seperti Gandrung karena tujuan utamanya bukan untuk hiburan, melainkan untuk kepentingan spiritual dan adat.
Arti Seblang
Secara etimologi, kata Seblang dipercaya berasal dari gabungan dua kata dalam Bahasa Osing: “sebele ilang”, yang artinya “kesialan atau malapetaka hilang.”
Oleh karena itu, tari seblang dari Banyuwangi merupakan tarian yang berfungsi sebagai media utama untuk membersihkan desa dari energi negatif, mencegah wabah penyakit (pageblug), dan memohon keselamatan serta kesuburan hasil panen kepada leluhur.
Kisah Legenda Penari Pertama (Semi)
Salah satu kronik sejarah yang sering dikaitkan dengan Seblang adalah kisah Semi, yang kemudian dikenal sebagai peletak dasar tari Gandrung wanita pertama.
Diceritakan, Semi kecil pernah menderita sakit parah yang tak kunjung sembuh. Ibunya, Mbok Milah, bernazar bahwa jika Semi sembuh, ia akan dijadikan penari Seblang.
Semi pun sembuh, menunaikan nazar tersebut, dan di masa remajanya ia menjadi penari Gandrung, menurunkan tradisi tersebut kepada keturunannya.
Perbedaan Seblang di Olehsari dan Bakungan
Meskipun Tari Seblang berasal dari satu akar budaya Suku Osing, ritual ini memiliki dua wajah yang berbeda dan sama-sama sakral, dilaksanakan di dua lokasi berbeda: Desa Olehsari dan Kelurahan Bakungan, yang keduanya berada di Kecamatan Glagah.
Perbedaan mendasar terletak pada waktu pelaksanaan dan status penarinya.
Seblang Olehsari

Ritual di Olehsari selalu dilaksanakan selama tujuh hari berturut-turut, tepat seminggu setelah Hari Raya Idulfitri.
Penari Seblang di sini harus seorang gadis perawan yang belum akil balig dan berasal dari garis keturunan penari sebelumnya.
Penari muda ini melambangkan “Dewi Kesuburan” dan harapan baru, serta menggunakan omprok (mahkota) yang dibuat baru dari daun pisang atau bunga segar setiap tahunnya.
Seblang Bakungan

Berbeda dengan Olehsari, ritual di Bakungan hanya dilaksanakan selama satu malam penuh, tepat seminggu setelah Hari Raya Iduladha.
Penari Seblang di Bakungan justru harus seorang wanita yang sudah menopause (di atas 50 tahun), melambangkan “Roh Leluhur” yang telah matang dan dihormati.
Omprok yang digunakan pun bersifat permanen, diwariskan dari tahun ke tahun.
Perbedaan unik ini menunjukkan betapa kayanya tradisi Osing dalam memaknai siklus kehidupan dan spiritualitas, di mana masa muda dan masa tua sama-sama memiliki peran penting dalam membersihkan desa.
Prosesi Sakral Seblang
Inti dari Tari Seblang adalah unsur mistis yang kental, di mana penari bertindak sebagai medium komunikasi dengan roh leluhur desa.
Pemilihan dan Ritual Kejiman
Penari Seblang tidak dipilih sembarangan; mereka harus berasal dari garis keturunan penari terdahulu dan dipilih secara supranatural melalui petunjuk gaib kepada seorang pawang (Gambuh).
Pertunjukan dimulai dengan penari memasuki kondisi trance atau kejiman (kesurupan).
Saat penari berhasil kerasukan, ia menari dengan mata terpejam, gerakannya monoton, mengikuti irama gending Osing yang dimainkan oleh pengiring.
Ider Bumi dan Momen Tundik
Selama ritual di Olehsari, ada prosesi Ider Bumi, yaitu mengarak penari berkeliling desa sebagai simbol pembersihan.
Momen klimaks yang paling ditunggu adalah Tundik, di mana penari yang kerasukan akan melemparkan selendang ke arah penonton. Siapapun yang terkena selendang wajib ikut menari.
Tari Seblang tujuannya pada momen ini adalah sebagai bentuk pemberkatan dan “tolak bala” bagi yang terkena. Menolak ajakan menari dianggap pantangan, dan penari Seblang akan mengejar penonton tersebut sampai ia bersedia menari.
Daya Tarik Pariwisata dan Cara Menyaksikannya
Meskipun merupakan ritual sakral, Tari Seblang kini menjadi daya tarik wisata budaya unggulan di Banyuwangi. Tarian ini menawarkan tontonan yang otentik, dengan gerakan abstrak yang berulang, irama musik yang magis, dan unsur trance yang menciptakan suasana mencekam namun memukau.
Akses ke Desa Olehsari dan Bakungan, yang terletak di Kecamatan Glagah, tidak jauh dari pusat kota Banyuwangi, mudah dicapai. Mengingat waktu pelaksanaan ritual yang sangat spesifik dan terbatas, wisatawan harus merencanakan kunjungan dengan matang.
Untuk memudahkan Anda mencapai lokasi ritual dan mengantisipasi keterbatasan transportasi umum di sana, sangat disarankan untuk menggunakan jasa Sewa Mobil di Banyuwangi. Dengan sewa mobil, Anda dapat mengatur jadwal kunjungan Anda sendiri, bahkan jika harus mengejar ritual yang dimulai sore hari dan berlanjut hingga malam hari, tanpa khawatir kehabisan angkutan.
Makna Mendalam bagi Masyarakat Osing
Bagi Suku Osing, Tari Seblang jauh melampaui sekadar pertunjukan:
- Pemenuhan Nazar: Ritual ini adalah bentuk ketaatan masyarakat dalam memenuhi nazar leluhur.
- Solidaritas dan Interaksi: Seblang berfungsi sebagai pengikat solidaritas masyarakat, di mana seluruh warga bergotong-royong dalam pelaksanaan upacara bersih desa.
- Media Komunikasi Spiritual: Ini adalah jembatan antara dunia manusia dan roh leluhur, yang dipercaya akan menjaga keseimbangan alam dan memberikan perlindungan.
Tradisi Seblang adalah bukti nyata bagaimana budaya lokal dapat bertahan dan dihormati di tengah gempuran modernitas. Ia mengajarkan tentang rasa syukur, penghormatan terhadap alam, dan kepercayaan tak terputus kepada warisan spiritual nenek moyang.